Sepakbola.com, Madrid – Walau terdengar menjanjikan kemewahan dan kesuksesan, ternyata proyek perekrutan pemain-pemain bintang atau yang dikenal dengan proyek Galacticos dianggap punya sisi negatif bagi Real Madrid. Akibat kebijakan transfer yang kurang tepat Los Blancos dianggap tidak bisa mencapai target.
Hal ini dikemukakan oleh Carlos Quieroz, entrenador Madrid yang merasakan Los Galacticos jilid pertama berisikan Ronaldo, Zinedine Zidane, Luis Figo, Roberto Carlos, dan David Beckham pada 2003/2004 lalu. Meski senang dengan pekerjaannya namun banyak kendala yang ia temui di Santiago Bernabeu.
Juru taktik asal Portugal tersebut mengeluhkan jika Madrid menjual banyak pemain macam Claude Makelele atau Fernando Morientes dengan alasan tidak bisa dijadikan pengerek popularitas. Padahal Quieroz menginginkan keduanya berada dalam tim karena cocok dengan taktik.
Parahnya pihak petinggi tidak memberitahukan soal transfer-transfer tersebut sehingga Quieroz kesulitan dalam melakukan tugasnya. Salah satu tangan kanan terbaik Sir Alex Ferguson di Manchester United ini pun terpaksa harus menukangi skuat yang tidak memenuhi kriteria yang diinginkan.
“Saat tawaran dari Real Madrid datang yang anda lakukan pertama kali adalah menerima terlebih dahulu. Berpikir bisa belakangan. Namun transfer mereka aneh. Kebijakan mereka secara garis besar adalah Galactico di lini depan dan pertahan diserahkan pada pemain lokal. Makelele dan Morientes yang kubutuhkan mereka lepas,” beber Quieroz pada Tribuna Expresso.
“Aku baru tahu jika Morientes dijual saat ia sendiri yang memberi tahuku secara tidak sengaja saat baru mengakhiri sebuah laga. Tapi aku tetap tenang dengan alasan masih punya Makelele namun tiba-tiba ia ke Chelsea untuk memberi tempat pada Beckham. Padahal posisi asli Beckham adalah sayap kanan namun mustahil menggeser Figo,”
“Kepergian Fernando Hierro juga jadi hambatan. Gabriel Milito yang rencananya jadi pengganti justru gagal datang setelah tes medis. Akhirnya aku bilang inginkan Luisao dan Pepe. Saat itu Pepe bisa didapatkan hanya dengan 1,5 juta Euro namun Madrid menunggu terlalu lama sampai bertahun-tahun dan harganya naik sampai 30 juta,”
“Kegagalan mendapatkan Milito plus pelepasan Makele dan Morientes adalah dosa terbesar Madrid. Karenanya empat pelatih setelahku banyak mengalami kegagalan dan klub rugi jutaan Euro. Tapi aku tidak menyesali waktuku disana. Aku akan menerima tawaran mereka kapanpun juga,” pungkas pria yang juga pernah menahkodai Portugal dan Iran itu.
Rawan konflik internal
Proyek Galacticos, terutama yang pertama, memang kerap dibayangi sisi kelam. Selain semua yang sudah dicurahkan oleh Quieros, rupanya ada indikasi konflik internal di ruang ganti akibat kebijakan transfer mahal itu.
Kabarnya skuat Madrid terbelah menjadi dua golongan yakni ‘Zidanes’ dan ‘Pavones’ dimana kelompok pertama berisi Galactico dan yang kedua pemain jebolan akademi. Kesenjangan diantara dua kubu ini dalam hal materi dan popularitas dianggap jadi salah satu alasan besar kenapa El Real tidak bisa terlalu sukses di era Galactico pertama.
Quieroz sendiri pada musim pertama dan terakhirnya di Madrid hanya bisa mengantarkan tim menjadi penghuni peringkat keempat La Liga. Di Liga Champions pun El Real hanya dapat menginjak perempat final. Dengan presentase kemenangan 57,63% Quieroz pun diberhentikan dan kembali lagi ke pangkuan Manchester United. (Sumber: Goal)
Penulis: Izzuddin Faruqi Adi Pratama
Editor: Avandi Wiradinata
The post Proyek Galacticos Real Madrid Dikritik Mantan Pelatihnya Sendiri appeared first on SepakBola.com - Berita Bola, Livescore, Jadwal & Cuplikan GOL!.