Sepakbola.com – Mulai musim depan Borussia Dortmund akan punya pelatih baru dan orang itu adalah Lucien Favre. Setelah bekerja untuk OGC Nice selama dua tahun terakhir, juru taktik asal Swiss tersebut diberi kontrak dengan durasi serupa di Signal Iduna Park.
Namanya yang belum terlalu sering didengar publik sepak bola tidak membuat Favre layak dipandang sebelah mata. Jika boleh dibilang ia adalah sosok yang paling tepat untuk menangani Dortmund saat ini. Berikut kami jabarkan alasannya.
1. Favre punya gaya yang akan disukai Dortmund

Saat Jurgen Klopp masih bertugas Dortmund benar-benar dipasang standar yang tinggi. Si Kuning Hitam tidak pernah lepas dari ciri khasnya yakni sepak bola ‘heavy metal’ dan gegenpressing. Alhasil bersama pelatih yang menukangi Liverpool saat ini tersebut mereka sukses menjuarai dua Bundesliga dan satu DFB Pokal.
Saat Thomas Tuchel datang Dortmund sedikit bergeser filosofinya dengan lebih mengandalkan penguasaan bola. Itu disebabkan sang nahkoda sedikit menjiplak pendekatan ala Pep Guardiola. Para pemain, petinggi, dan fans tampak tidak keberatan dengan hal ini.
Namun kala Peter Bosz datang pada musim 2017/2018 lalu Die Borussen jadi oleng. Formasi 4-3-3 dan penguasaan bola yang jadi andalan eks bos Ajax Amsterdam tersebut tidak berfungsi dengan baik. Beruntun Peter Stoger yang jadi suksesornya bisa menyelamatkan musim klub dengan gayanya yang lebih pragmatis.
Kini bersama Favre, Dortmund bisa berharap menemukan keseimbangan dari bermacam-macam pendekatan empat pelatih sebelumnya. Suksesnya membangunkan raksasa tidur kala menangangi Hertha Berlin dan Borussia Monchengladbach di awal dekade ini adalah buktinya.
Favre menyukai sepakbola yang menyerang (seperti Klopp) namun juga tidak lantas melupakan pertahanan dan tidak ragu sedikit menahan diri layaknya Stoger. Akan ada juga penerapan ball possesion seperti yang disenangi Tuchel.
2. Terbiasa melebihi target

Walau kariernya belum lagi berhias trofi sejak meninggalkan negara kelahirannya namun Favre bukannya tidak sukses. Di Bundesliga bersama Berlin dan Gladbach atau saat di Ligue 1 untuk Nice ia selalu dinilai melebihi ekspektasi.
Berlin yang semula adalah tim papan bawah dibawanya finish di empat besar pada 2008/2009. Jika bukan karena kesulitan ekonomi mungkin tim yang bermarkas di Olympiastadion tersebut lebih mapan saat ini.
Gladbach bahkan berada dalam posisi yang lebih buruk saat ia datang pada Februari 2011. Die Fohlen harus berjuang menghindari relegasi saat itu namun akhirnya lolos via play-off. Namun musim-musim setelahnya sampai 2015 tidak pernah Favre gagal mengantar finish di luar 10 besar dan kompetisi Eropa bukan hal asing bagi mereka.
Saat bersama Nice juga demikian. Dengan banyaknya klub yang lebih tenar seperti Lyon, Marseille, AS Monaco, atau Paris Saint-Germain tidak pernah ada yang menyangka jika Les Aiglons bisa menduduki tangga ketiga pada 2016/2017. Musim lalu juga sebenarnya tidaklah buruk walau Mario Balotelli dkk gagal finish di zona Eropa.
3. Potensi pemain jadi terasah

Kapten kedua Dortmund saat ini yang pernah jadi anak buah Favre di Gladbach, Marco Reus, mengatakan jika sang manajer adalah sosok terbaik yang pernah menanganinya. Ungkapan ini bukan sekedar basa-basi.
Reus yang sebelumnya adalah ‘buangan’ di akademi Die Borussen disulap sehingga menjadi salah satu pemain terbaik di Jerman bersama Favre. Lukasz Piszczek yang saat ini adalah bek utama di Signa Iduna Park pun punya pengalaman serupa di Berlin.
Cerita soal Favre yang mengasah bakat para pemain ke level tertinggi tidak berhenti disitu saja. Nama-nama seperti Andrey Voronin, Josip Simunic, Marko Pantelic (Berlin), Max Kruse, Raffael, Christoph Kramer (Gladbach), Balotelli, Jean-Michael Seri, Alassane Plea (Nice) dan masih banyak lagi adalah bukti jika ia siap menjadikan siapapun bintang.
4. Pelatih yang akan disukai youngster

Trek rekor Favre sebagai juru taktik yang peduli akan nasib pemain muda sudah tidak perlu diragukan. Di FC Zurich ia memberikan ban kapten pada Blerim Dzemali yang masih berusia 19 tahun. Tanpanya mungkin Marc-Andre Ter Stegen yang saat ini adalah kiper utama Barcelona dan Jerman tidak akan mentas karena Favre adalah pelatih yang memberinya kans di Gladbach sejak 18 tahun.
Granit Xhaka (Arsenal), Mahmmoud Dahoud (Dortmund), serta Kramer (Gladbach) adalah sebagian contoh kecil lain dari buah kemurahan hati Favre pada talenta belia. Bayangkan saja saat nanti ia bekerja untuk Dortmund.
Saat ini skuat Dortmund berisi pemain seperti Christian Pulisic (19), Jadon Sancho (18), Maximilian Philipp (23), Julian Weigl (22), Dan-Axel Zagadou (18), Manuel Akanji (22), Dahoud (22), serta Alexander Isak (18). Tentunya mereka ini yang paling bersemangat atas kedatangan Favre.
5. ‘Kryptonite’ bagi Bayern Munchen

Jika sebuah klub ingin jadi juara di Bundesliga maka mereka harus bisa lebih superior ketimbang Bayern Munchen. Favre bisa menawarkan hal itu pada Dortmund.
Di musim keduanya bersama Berlin, Favre sudah bisa menemukan formula untuk membekuk Die Roten. Saat itu dalam laga kandang Voronin dkk mampu menang tiis 2-1.
Namun Gladbach jadi ‘monster’ sesungguhnya bagi Bayern. Pada musim 2011/2012 Die Fohlen menang kandang-tandang atas Bayern. Sedangkan di 2014/2015 saat Die Bavarian masih ditukangi oleh Guardiola Gladbach jadi satu-satunya tim yang selamat dari kekalahan.
Saat Favre pergi dan Andre Schubert jadi penerus di Gladbach pada 2015/2016 pun metodenya masih efektif. Di musim tersebut mereka mampu mengemas empat poin atas Bayern. Tidak heran jika Dortmund musim depan layak optimis. (Sumber: Bundseliga)

The post [TOP 5] Alasan Kenapa Borussia Dortmund Bisa Sukses Dengan Lucien Favre appeared first on SepakBola.com - Berita Bola, Livescore, Jadwal & Cuplikan GOL!.