Sepakbola.com – Piala Dunia 2018 yang berlangsung di Rusia berjalan begitu menarik sejauh ini, bahkan kita sampai disuguhi berbagai kejutan ekstrem seperti kegagalan Jerman lolos dari fase grup walau mereka berstatus juara bertahan.
Tergabung di Grup F bersama Swedia, Meksiko, dan Korea Selatan, Der Panzer justru menjadi juru kunci setelah melewati tiga pertandingan. Walau mampu menang atas Swedia namun Jerman justru dijegal oleh Meksiko dan juga Korsel.
Meski ini adalah pencapaian terburuk Die Mannschaft dalam 80 tahun terakhir di Piala Dunia, namun sebenarnya tidak ada yang akan menyalahkan mereka untuk gagal mempertahankan gelar. Sejauh ini baru Brasil dan Italia yang bisa melakukannya.
Namun gagal melaju ke fase gugur dengan status peringkat keempat grup masih dirasa ‘keterlaluan’ bagi Jerman. Lima faktor di bawah ini dipercaya jadi alasan kegagalan Jerman di Rusia.
1. Pemilihan skuat

Joachim Loew selaku pelatih membangun timnya dengan skuat juara Piala Dunia 2014 lalu sebagai dasar. Mereka yang sudah pensiun seperti Philipp Lahm, Miroslav Klose, Lukas Podolski, dan Bastian Schweinsteiger digantikan oleh para rising star seperti Joshua Kimmich, Timo Werner, Julian Brandt, Leon Goretzka dan lain-lain.
Namun tidak semua pemain baru tersebut menjalani transisi mulus untuk jadi 23 tank yang mampu mengusung Jerman. Terutama di dua lini vital ini yakni bek kiri dan gelandang serang sayap.
Untuk melapis Jonas Hector yang sebenarnya tidak terlalu bisa diandalkan di posisi full-back kiri, Loew memanggil Marvin Plattenhardt. Bagi anda yang tidak mengikuti Bundesliga secara menyeluruh tentunya kesulitan untuk mengenali penggawa asal Hertha Berlin ini. Memang pada 2017/2018 lalu ia punya tujuh assist dari 33 start namun reputasi serta level permainannya belum cukup tinggi.
Loew seharusnya memberi kesempatan pada Philipp Max untuk membela negaranya mengingat bersama Augsburg musim lalu ia mencetak 2 gol plus 12 assist. Padahal usianya masih 24 tahun.
Selanjutnya posisi gelandang serang sayap dimana seorang Leroy Sane gagal mengisi skuat putaran final. Padahal untuk Manchester City ia sukses mengumpulkan 10 gol, 15 assist, dan 85 dribel sukses di ajang Premier League.
Tidak cuma membantu The Citizens menjadi kampiun liga dengan 100 gol dan poin, Sane juga berhasil menyabet penghargaan PFA Young Player of the Year. Namun apa daya jebolan akademi FC Schalke 04 tersebut tidak memenuhi kriteria yang dibutuhkan Loew.
2. Menganakemaskan Neuer

Dengan status sebagai kapten utama dengan 79 caps dan sudah terbukti mempunyai mental juara di turnamen besar membuat Manuel Neuer punya semua kriteria untuk jadi kiper utama Jerman. Namun bagaimana jika semusim penuh sebelum Piala Dunia 2018 ia tidak bermain sama sekali akibat cedera metatarsal parah?.
Tentunya opsi paling logis adalah tetap membawanya ke Rusia namun tanpa status sebagai starter. Marc-Andre ter Stegen, Kevin Trapp, atau bahkan Bernd Leno yang tidak lolos seleksi skuat final dirasa sudah punya cukup kualitas untuk mengenakan jersey bernomor 1.
Sayang Loew tidak berpikir demikian. Sejak laga pemanasaan pra-Piala Dunia ia sudah terus mempercayai Neuer di bawah mistar. Hasilnya sudah bisa ditebak ia tidak menunjukkan tanda-tanda sudah terbiasa lagi dengan laga berintensitas tinggi dan kebobolan empat gol dari tiga laga.
Jika saja Jerman dan Loew mempercayai Ter Stegen mungkin hasilnya bisa berbeda. Kiper Barcelona itu pada musim lalu sukses mengantarkan timnya menjadi kampiun La Liga dengan catatan 18 nirbobol. Jumlah penyelamatan serta kemampuan distribusi bolanya bahkan tidak kalah dari Neuer.
3. Menurunnya Boateng-Hummels

Duet Jerome Boateng-Mats Hummels memang brilian bagi pertahanan Jerman di edisi Brasil 2014 lalu namun keduanya jelas memperlihatkan penurunan di Rusia 2018. Duo asal Bayern Munchen ini bahkan bisa dibilang sebagai titik lemah Der Panser.
Boateng empat tahun lalu masih bisa bersinar karena ia di level klub berada dalam arahan Pep Guardiola sehingga Loew di timnas tinggal melakukan penyesuaian. Namun kini bek berdarah Ghana tersebut sudah tidak punya backing serupa dan lagi ia baru saja pulih dari cedera hamstring.
Di laga melawan Swedia, Boateng nyaris membahayakan timnya. Kartu kuning keduanya di menit-menit akhir nyaris memaksa sang juara bertaha mengemas koper lebih awal. Akhirnya ia harus absen di matchday pamungkas.
Hummels pun sama saja karena ia tampak kembali sulit menghindari cedera mengingat di matchday pembuka kontra Meksiko, Antonio Rudiger sudah harus menggantikannya. Kembali dipercaya menjadi starter melawan Korsel performa eks Borussia Dortmund ini makin kacau karena tidak hanya gagal menjaga pertahahnan namun juga sempat melewatkan kesempatan emas membuat gol.
4. Kegagalan memaksimalkan Kroos

Di Real Madrid sosok Toni Kroos adalah seorang gelandang terbaik di dunia. Hal itu dibuktikan dengan raihan tiga trofi Liga Champions yang diraih secara berutan sejak 2015/2016 lalu. Biasanya performa apikya di level klub akan dibawa ke Jerman namun di Rusia 2018 ini ada yang beda.
Kroos tampak kehilangan tempat berpegangan di lini tengah dalam formasi 4-2-3-1. Diduetkan dengan Sami Khedira dalam posisi poros ganda, sang playmaker flamboyan tampak hilang arah.
Ini dikarenakan pada Piala Dunia sebelumnya ia masih punya Khedira sekaligus Schweinsteiger sebagai ‘perisai’. Oleh Loew ia ditugaskan sebagai penagatur aliran bola sementara Khedira fokus dalam bertahan dan Schweinsteiger lebih all-rounder dengan daya jelajahnya yang tinggi.
Kini setelah sang senior pensiun dari tugas kenegaraan Kroos justru diplot sebagai penerusnya. Padahal ia tidak memiliki mobilitas tinggi ataupun tekel yang baik layaknya Schweinsteiger. Ditambah lagi performa Khedira sudah tidak semapan dulu.
Di Madrid servis terbaik masih didapatkan Kroos dengan adanya Luka Modric (Schweinsteiger) dan Casemiro (Khedira). Tidak kerah highlight penampilannya di Rusia hanyalah free-kick indah ke gawang Swedia pada matchday kedua.
5. Belum adanya penerus Schweinsteiger dan Klose

Seperti yang sudah dibahas di poin sebelumnya, Jerman begitu kehilangan sosok Schweinsteiger terutama karena mobilitas tingginya yang tak tergantikan. namun ia bukan satu-satunya mantan penggawa yang dirindukan.
Masih ada Klose yang juga belum bisa ditemukan duplikatnya terutama karena ia punya karakter sebagai target-man. Pria berdarah Polandia tersebut mampu menjadi sasarab umpan-umpan untuk kemudian mengalirkannya kembali atau bahkan mencetak gol dengannya.
Saat ini Werner memang sudah diplot sebagai ‘nomor 9’ baru Der Panzer namun ia mungkin disalahposisikan oleh Loew. Pasalnya penggawa asal RB Leipzig tersebut lebih cocok memerankan inside forward ketimbang penyerang tengah.
Werner lebih suka menusuk dari arah sayap karena memiliki ruang gerak yang bebas. Saat ditugaskan seperti itu di Piala Konfederasi 2017 Jerman dibawanya menjadi juara. Memasangnya sebagai striker bertugas target-man hanya akan mematikan potensi dari pemain yang dikabarkan akan segera berlabuh di Premier League ini.
Contohnya saja kala melawan Swedia, Mario Gomez yang justru dijadikan target-man. Werner tampil lebih baik dari sisi kiri dan mampu menjadi kreator gol penyeimbang yang dicetak oleh Marco Reus. (Sumber: Squawka)

Penulis: Izzuddin Faruqi Adi Pratama/Editor: Avandi Wiradinata
The post [TOP 5] Faktor Penyebab Kegagalan Jerman Di Piala Dunia 2018 appeared first on SepakBola.com - Berita Bola, Livescore, Jadwal & Cuplikan GOL!.